Satu Rumah Satu Jumantik Efektif Cegah DBD

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah masalah lingkungan yang bersumber dari nyamuk dan adanya pembiaran sarang nyamuk oleh setiap orang. Upaya efektif untuk memberantas dan mencegah penyebaran DBD adalah menetapkan satu rumah satu juru pemantau jentik (Jumantik).
”Jumantik itu merupakan upaya gerakan yang sangat efektif. Setiap rumah itu ada satu juru pemantau jentik. Kemudian satu rumah itu harus ada Agent of Change untuk mengubah perilaku dan ada gerakan 3M+, mengubur, menguras, menutup, melipat baju-baju yang digantung yang menjadi tempat sarang nyamuk,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI drg. Oscar Primadi, MPH, Selasa (29/1) di gedung Kementerian Kesehatan.
Jumantik bertugas memantau jentik nyamuk yang ada di sekeliling tempat tinggal, terutama di tempat-tempat yang biasa menjadi sarang nyamuk seperti di bak mandi karena jarang dikuras, genangan air di sampah kaleng atau plastik kemasan air minum. Sarang nyamuk tersebut hendaknya diberantas dengan segera agar tidak menimbulkan DBD.
Tugas Jumantik lainnya adalah melakukan 3M+, dan Pemberantas Sarang Nyamuk (PSN), yakni menutup semua tampungan air atau sumber air, menguras bak mandi, dan mendaur ulang barang bekas.
Plusnya, menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk, menggunakan kelambu saat tidur, memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah, serta menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk.
Selain 3M+ yang harus dilakukan Jumantik, ia juga bertindak sebagai agent of change dalam hal perilaku hidup bersih dan sehat. Jadi ada pelopor untuk mencontohkan dan mengingatkan upaya-upaya pencegahan DBD.
”Apa pun bisa dilakukan masyarakat untuk membunuh nyamuk untuk mematikan lingkungannya, untuk memutus mata rantai hidup jentik nyamuk DBD, menguras, mengubur, kemudian menanam atau mengoleskan serai. Itu langkah yang bagus untuk menghindarkan diri dari gigitan nyamuk,” tambah Oscar.
DBD tidak hanya menyerang pada musim hujan, pada musim kemarau pun potensi seseorang terserang DBD masih ada, belum lagi Indonesia adalah negara endemis DBD. Hal itu bisa terjadi ketika seseorang tidak melakukan perilaku hidup sehat, seperti jarang bersih-bersih dan terbiasa menggantungkan pakaian bekas pakai.
”Kalau sudah sampai pada tahapan KLB, tahapan dimana terjadi banyaknya kasus DBD itu bukan persoalan mudah, karena banyak upaya yang harus dilakukan mulai dari pemberantasan sarang nyamuk, pengobatan pasien, hingga sosialisasi pencegahan DBD,” kata Oscar.

Imunisasi Lengkap Pada Anak

Saat ini di Indonesia masih ada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi secara lengkap bahkan tidak pernah mendapatkan imunisasi sedari lahir. Hal itu menyebabkan mereka mudah tertular penyakit berbahaya karena tidak adanya kekebalan terhadap penyakit tersebut.
Data dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menunjukkan sejak 2014-2016, terhitung sekitar 1,7 juta anak belum mendapatkan imunisasi atau belum lengkap status imunisasinya.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengubah konsep imunisasi dasar lengkap menjadi imunisasi rutin lengkap. Imunisasi rutin lengkap itu terdiri dari imunisasi dasar dan lanjutan. Imunisasi dasar saja tidak cukup, diperlukan imunisasi lanjutan untuk mempertahankan tingkat kekebalan yang optimal.
Pemberian imunisasi disesuaikan dengan usia anak. Untuk imunisasi dasar lengkap, bayi berusia kurang dari 24 jam diberikan imunisasi Hepatitis B (HB-0), usia 1 bulan diberikan (BCG dan Polio 1), usia 2 bulan diberikan (DPT-HB-Hib 1 dan Polio 2), usia 3 bulan diberikan (DPT-HB-Hib 2 dan Polio 3), usia 4 bulan diberikan (DPT-HB-Hib 3, Polio 4 dan IPV atau Polio suntik), dan usia 9 bulan diberikan (Campak atau MR).
Untuk imunisasi lanjutan, bayi bawah dua tahun (Baduta) usia 18 bulan diberikan imunisasi (DPT-HB-Hib dan Campak/MR), kelas 1 SD/madrasah/sederajat diberikan (DT dan Campak/MR), kelas 2 dan 5 SD/madrasah/sederajat diberikan (Td).
Vaksin Hepatitis B (HB) diberikan untuk mencegah penyakit Hepatitis B yang dapat menyebabkan pengerasan hati yang berujung pada kegagalan fungsi hati dan kanker hati. Imunisasi BCG diberikan guna mencegah penyakit tuberkulosis.
Imunisasi Polio tetes diberikan 4 kali pada usia 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan untuk mencegah lumpuh layu. Imunisasi polio suntik pun diberikan 1 kali pada usia 4 bulan agar kekebalan yang terbentuk semakin sempurna.
Imunisasi Campak diberikan untuk mencegah penyakit campak yang dapat mengakibatkan radang paru berat (pneumonia), diare atau menyerang otak. Imunisasi MR diberikan untuk mencegah penyakit campak sekaligus rubella.
Rubella pada anak merupakan penyakit ringan, namun apabila menular ke ibu hamil, terutama pada periode awal kehamilannya, dapat berakibat pada keguguran atau bayi yang dilahirkan menderita cacat bawaan, seperti tuli, katarak, dan gangguan jantung bawaan.
Vaksin DPT-HB-HIB diberikan guna mencegah 6 penyakit, yakni Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, serta Pneumonia (radang paru) dan Meningitis (radang selaput otak) yang disebabkan infeksi kuman Hib.
Terkait capaian imunisasi, cakupan imunisasi dasar lengkap pada 2017 mencapai 92,04%, melebihi target yang telah ditetapkan yakni 92% dan imunisasi DPT-HB-Hib Baduta mencapai 63,7%, juga melebihi target 45%.
Sementara tahun ini terhitung Januari hingga Maret imunisasi dasar lengkap mencapai 13,9%, dan imunisasi DPT-HB-Hib Baduta mencapai 10,8%. Target cakupan imunisasi dasar lengkap 2018 sebesar 92,5% dan imunisasi DPT-HB-Hib Baduta 70%.
Agar terbentuk kekebalan masyarakat yang tinggi, dibutuhkan cakupan imunisasi dasar dan lanjutan yang tinggi dan merata di seluruh wilayah, bahkan sampai tingkat desa. Bila tingkat kekebalan masyarakat tinggi, maka yang akan terlindungi bukan hanya anak-anak yang mendapatkan imunisasi tetapi juga seluruh masyarakat.
Dalam rangka mencapai cakupan imunisasi yang tinggi dan merata di setiap wilayah, Menteri Kesehatan mengimbau agar seluruh Kepala Daerah (1) mengatasi dengan cermat hambatan utama di masing-masing daerah dalam pelaksanaan program imunisasi; (2) menggerakkan sumber daya semua sektor terkait termasuk swasta; dan (3) meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi rutin lengkap sehingga mau dan mampu mendatangi tempat pelayanan imunisasi.
Kepada seluruh masyarakat, Menkes menghimbau agar masyarakat secara sadar mau membawa anaknya ke tempat pelayanan kesehatan untuk mendapatkan imunisasi dan tidak mudah terpengaruh isu-isu negatif yang tidak tepat mengenai imunisasi.
Selain itu, masyarakat pun diimbau agar tidak mudah terpengaruh isu-isu negatif yang tidak tepat mengenai imunisasi.

Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk

Penyakit kaki gajah merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filarial dan ditularkan melalui gigitan nyamuk. Tidak seperti DBD dan malaria yang hanya ditularkan melalui satu jenis nyamuk, penyakit kaki gajah dapat ditularkan melalui semua jenis nyamuk.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid mengatakan filariasis disebabkan oleh parasit atau cacing yang ditularkan melalui gigitan semua jenis nyamuk. Parasit tersebut mulanya bisa dari kera atau kucing, kemudian ditularkan melalui gigitan nyamuk ke manusia.
Begitupun dari manusia ke manusia. Seseorang yang tertular cacing filaria akan menular ke orang lain melalui gigitan nyamuk.
”Seseorang dapat terkena penyakit kaki gajah jika digigit oleh nyamuk yang membawa larva cacing filarial. Di dalam tubuh manusia larva infektif tersebut tumbuh menjadi cacing dewasa dan dapat menghasilkan jutaan anak cacing atau mikrofilaria. Cacing dewasa itu akan hidup di saluran dan kelenjar getah bening sehingga dapat menyebabkan penyumbatan hingga akhirnya menjadi cacat menetap,” kata dr. Nadia di ruang kerjanya, Jumat (15/3).
Ia menjelaskan gejala awalnya berupa demam berulang kurang lebih 1 sampai 2 kali setiap bulan bila bekerja berat, namun dapat sembuh tanpa diobati. Timbul benjolan dan terasa nyeri pada lipat paha atau ketiak tanpa ada luka.
Gejala lainnya ada pembesaran yang hilang timbul pada kaki, tangan, atau payudara. Itulah yang lema kelamaan pembesaran tersebut menjadi cacat menetap.
”Penyakit ini bisa menimbulkan kecacatan yang menetap. Penyakit ini penting untuk dieliminasi karena kecacatan yang ditimbulkannya dapat menyebabkan penderita tidak produktif sehingaa menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar,” katanya.
Hingga saat ini hanya ada 6 provinsi yang bukan daerah endemis filariasis di Indonesia, yaitu DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Utara, dan NTB. Dari 514 kabupaten/kota di Indonesia, sebanyak 236 kabupaten/kota yang tersebar di 28 provinsi masih merupakan daerah endemis filariasis.
Sampai dengan 2018, dilaporkan 12.677 kasus klinis kronis yang tersebar di 34 provinsi. Perkembangan jumlah kasus kronis penyakit kaki gajah yang baru sudah jarang ditemui, karena kegiatan pencegahan melalui Pemberian Obat Pencegahan Masal (POPM) terlaksana dengan baik.
Untuk mengatasi masalah filariasis, Kemenkes telah mengeluarkan Permenkes nomor 94 tahu 2014 tentang penanggulangan filariasis. Strateginya dilakukan dengan POPM untuk memutus mata rantai penularan filariasis. POPM diberikan sekali setahun selama 5 tahun berturut-turut. Jenis obat yang dipakai adalah Diethylcarbamazine Citrate (DEC) dan Albendazole.
Strategi lainnya dilakukan dengan mencuci bagian tubuh yang bengkak dengan air bersih dan sabun, beri salep antibiotic/antijamur sesuai indikasi. Hal itu dilakukan untuk mencegah dan membatasi kecacatan dengan penatalaksanaan kasus filariasis.
dr. Nadia mengimbau seluruh masyarakat agar waspada terhadap filariasis. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah menggunakan kelambu sewaktu tidur, menutup ventilasi rumah dengan kawat kassa, menggunakan obat nyamuk semprot/bakar untuk mengusir nyamuk, dan menggunakan alat pelindung diri atau obat oles anti nyamuk.
”Masyarakat penting juga menjaga kebersihan lingkungan, menghilangkan tempat perindukan nyamuk, menimbun, mengeringkan, atau mengalirkan air yang tergenang, dan minum obat pencegahan filariasis secara teratur,” ucapnya.

Perilaku Manusia Sebabkan Populasi Nyamuk DBD Meningkat

Akhir tahun 2018 hingga awal tahun ini terjadi lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue. Lonjakan kasus itu tidak hanya disebabkan oleh nyamuk melainkan perilaku manusia yang tidak melakukan pola hidup sehat dan acuh pada lingkungan yang menjadi tempat sarang nyamuk.
Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI drg. Oscar Primadi, MPH mengatakan upaya perubahan perilaku memang harus dilakukan dalam menyikapi DBD. Oscar menganggap persoalan DBD bukan hanya bersumber dari nyamuk, tapi ada perilaku manusia yang menyebabkan perindukan nyamuk meningkat.
Perilaku tersebut misalnya membiarkan pakaian bekas pakai tergantung, tidak menguras bak, membiarkan genangan air di sekitar tempat tinggal. Belum lagi saat ini telah masuk musim hujan dengan potensi penyebaran DBD lebih tinggi.
”Musim penghujan inilah yang kalau kita tidak peduli dengan lingkungan, tidak mau menguras bak mandi, apalagi ban-ban bekas banyak dibiarkan di dekat pemukiman, botol-botol bekas, kaleng-kaleng bekas, dan plastik-plastik bekas minuman kemasan dapat meningkatkan jumlah penyebaran DBD,” kata Oscar di gedung Kementerian Kesehatan, Selasa (29/1).
Indonesia merupakan endemis DBD, Oscar mengatakan masalah DBD adalah masalah lingkungan dan cara mengatasinya perlu tindakan tidak hanya dari pemerintah tapi dari setiap individu di lingkungannya masing-masing.
Warning ini sudah disikapi oleh teman-teman daerah (dinas kesehatan), jadi saya katakan demam berdarah ini memang endemis di seluruh Indonesia, karena ini persoalan lingkungan, ucap Oscar.
Kementerian Kesehatan, tambah Sekjen, sudah memahami bahwa akan terjadi lonjakan-lonjakan kasus DBB. Karena itu pada November 2018 Kemenkes telah mengirimkan surat edaran kewaspadaan peningkatan kasus DBD kepada semua gubernur.
Kemenkes juga mengirimkan logistik seperti insektisida, larvasida ke daerah-daerah. Selain itu pemerintah daerah telah melakukan upaya pencegahan DBD seperti penyelidikan epidemiologi dan penyuluhan, semuanya dilakukan secara komprehensif.
Pemerintah daerah juga telah membentuk kelompok kerja operasional (Pokjanal) dalam mengatasi masalah DBD di daerahnya masing-masing. Selain itu disiagakan juga rumah sakit untuk merawat pasien DBD, karena penderita DBD perlu perawatan intensif di rumah sakit.
”Dalam kondisi seperti ini, semua pihak harus peduli, tidak hanya berharap pada pelayanan kesehatan, tidak hanya berharap pada petugas kesehatan, tapi juga aktivitas Pokjanal DBD di daerah ini harus dikerahkan karena persoalannya adalah lingkungan, tanpa sadar kita membiarkan nyamuk bersarang di lingkungan kita karena tingkat kepedulian rendah,” kata Oscar.

Kurangi Penggunaan Plastik, Limbahnya Berpotensi Bahayakan Kesehatan

Tak bisa dimungkiri plastik memang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun dampaknya berpotensi membahayakan kesehatan, baik kesehatan lingkungan maupun kesehatan tubuh makhluk hidup.
Direktur Kesehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Imran Agus Nurali, Sp, KO mengatakan ada dampak yang tidak bagus dari limbah plastik terhadap lingkungan atau kesehatan tubuh. Menurutnya, hal itu karena plastik yang sulit terurai sehingga dampak yang terlihat adalah terjadinya penimbunan limbah, menyumbat saluran air, dan banjir mencemari lingkungan.
”Berikutnya, dia akan mempengaruhi kesehatan tubuh manusia kalau tertimbun di tanah atau air kemudian terjadi pecahan-pecahan dari limbah plastik itu berpotensi membahayakan kesehatan manusia jika air itu dikonsumsi,” kata dr. Imran di gedung Kemenkes, Rabu (16/1).
Tak hanya itu, dampak berbahaya akan terjadi pada tanaman di darat dan biota air. Misalnya, mikroplastik yang terkandung di dalam air akan langsung masuk ke dalam organ tubuh ikan, ikan tersebut tidak akan bertahan hidup lama, dan apabila dikonsumsi oleh manusia juga dapat berbahaya.
”Kemudian kalau dia (mikroplastik) kena panas matahari atau terbakar itupun berbahaya bagi pernapasan. Kalau dibakar saja dia bisa menghasilkan zat karbon monoksida yang bahaya untuk kesehatan,” ucap dr. Imran.
Namun demikian, tambah dr. Imran, belum ada kajian ambang batas kandungan mikroplastik yang dapat membahayakan kesehatan makhluk hidup. Tetapi, masyarakat diimbau untuk mengurangi penggunaan plastik.
”Sebenarnya yang lebih diutamakan kita membatasi penggunaan plastik seperti di ritel atau warung-watrung. Kalau bisa dibatasi, kita gunakan tas belanja sendiri supaya tidak menambah produksi plastik,” katanya.
Mengurangi penggunaan plastik bisa dimulai dari rumah tangga melalui pengelolaan limbah. Caranya, bisa dengan pengelompokkan limbah organik dan nonorganik. Limbah organik dapat dimanfaatkan sebagai kompos, sementara limbah nonorganik dapat didaur ulang menjadi karya seni bahkan karya yang bernilai ekonomi.
Membatasi penggunaan plastik juga bisa dilakukan dengan membiasakan bawa botol minum sendiri. Hal itu telah dilakukan oleh Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek, bahkan di beberapa kesempatan ia mengajak masyarakat untuk sama-sama terbiasa menggunakan botol minum sendiri agar mengurangi limbah kemasan air minum.

Pencegahan penularan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

Penyakit DBD adalah penyakit infeksi oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes, dengan gejala demam tinggi mendadak disertai manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan renjatan dan kematian. Sampai sekarang penyakit DBD belum ditemukan obat maupun vaksinnya, sehingga satu-satunya cara untuk mencegah terjadinya penyakit ini dengan pengendalian vektor.

Pengendalian vektor pembawa virus Dengue dengan penyemprotan (fogging) insektisida tidak efektif oleh karena nyamuk Aedes mempunyai kemampuan menularkan virus kepada keturunannya secara transovarial atau melalui telurnya. Keturunan nyamuk yang menetas dari telur nyamuk terinfeksi virus DBD secara otomatis menjadi nyamuk terinfeksi yang dapat menularkan virus DBD kepada inangnya yaitu manusia. Penyemprotan insektisida dilakukan sesuai indikasi setelah dilakukan tindakan penyelidikan epidemiologi, untuk mencari sumber penularan. Adapun indikasinya adalah ketika ditemukan jentik nyamuk Aedes di rumah penderita disertai beberapa kasus penderita yang positif menderita DBD disekitar tempat tersebut.

Pengendalian vektor dengan penggunaan insektisida (fogging) seringkali belum maksimal oleh karena sering penderita yang dirawat di Rumah Sakit tidak mencantumkan alamat yang jelas sehingga petugas Puskesmas tidak menemukan alamat tempat tinggal penderita untuk dilakukan penyelidikan epidemiologis. Diperkirakan terdapat 30-40% kasus DBD di Kota Manado tidak difogging oleh petugas karena alamat penderita yang tidak ditemukan oleh petugas Puskesmas. Hal ini menyebabkan proses penyebaran DBD masih terjadi di Kota Manado.

Disarankan agar penderita DBD dan keluarganya ketika di rawat dapat mencantumkan alamat yang jelas misalnya nama kelurahan, lingkungan, ataupun disertai dengan penanda yang lain misalnya disamping Rumah Ibadah A, disamping sekolah, dan lain-lain yang dapat memudahkan petugas untuk melakukan pelacakan kasus dan penyelidikan epidemiologi.

 

 

 

 

 

 

 

Pencegahan dan Vaksin DBD

Penyakit DBD adalah penyakit infeksi oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes, dengan gejala demam tinggi mendadak disertai manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan renjatan dan kematian. Sampai sekarang penyakit DBD belum ditemukan obat, sehingga satu-satunya cara untuk mencegah terjadinya penyakit ini dengan pengendalian vektor.

Pengendalian vektor pembawa virus Dengue dengan fogging insektisida tidak efektif oleh karena nyamuk Aedes mempunyai kemampuan menularkan virus kepada keturunannya secara transovarial atau melalui telurnya. Keturunan nyamuk yang menetas dari telur nyamuk terinfeksi virus DBD secara otomatis menjadi nyamuk terinfeksi yang secara langsung dapat menularkan virus DBD kepada inangnya yaitu manusia.

Dengan demikian maka kita harus menjadikan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dikenal sebagai gerakan (3M+) sebagai benteng utama usaha pengendalian vektor. Usaha ini harus dilakukan secara intensif dan berkelanjutan pelaksanaan usaha tersebut dapat menekan masalah DBD yang selalu menjadi masalah setiap tahunnya.

Vaksin DBD

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa vaksin dengue sebagai cara mencegah dan obat demam berdarah dapat diberikan pada orang-orang yang berusia 9-45 tahun, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah rawan DBD. Vaksin dengue tetap dapat diberikan meskipun Anda sudah pernah menderita demam berdarah sebelumnya. Seperti yang telah dijelaskan di atas, virus Dengue memiliki 4 serotipe yang berbeda. Lewat vaksin dengue, tubuh Anda dapat membangun kekebalan terhadap semua serotipe virus DBD.

Vaksin dengue sudah ada di Indonesia sejak tahun 2016, namun sedang dalam tahap penelitian uji klinis fase III untuk menguji manfaat dan keamanan vaksin. Fase III adalah fase terakhir sebelum akhirnya dipasarkan dan diamati efektivitasnya dalam skala besar.

Meski belum tersedia meluas, namun vaksin dengue ini sudah disetujui oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Saat ini terdapat 10 negara di dunia yang telah menyetujui penggunaan vaksin dengue yaitu Indonesia, Filipina, Vietnam, Thailand, Malaysia, Brazil, Puerto Rico, Meksiko, Honduras, dan Kolombia. Untuk mendapatkan vaksin dengue, bisa datang langsung ke rumah sakit atau klinik kesehatan terdekat dan tanyakan ketersediannya atau bisa dicari di apotek-apotek.Vaksin ini belum tersedia di Puskesmas karena belum masuk ke dalam program imunisasi nasional. Saat ini harganya masih tergolong cukup mahal yaitu sekitar 1 juta rupiah per 1 kali suntik vaksin.

Vaksin dengue akan paling efektif sebagai pencegahan sekaligus obat demam berdarah ketika diberikan pada anak yang berusia 9-16 tahun. Namun jika anak Anda belum mencapai usia ini, sebaiknya jangan dulu berikan vaksin dengue. Karena jika vaksin dengue diberikan terlalu dini pada anak di bawah usia 9 tahun, vaksin ini dapat meningkatkan risiko anak menjalani opname yang membutuhkan waktu lama. Risikonya untuk menderita DBD berat juga dapat meningkat, yang tentu membawa risiko bahaya dan komplikasinya tersendiri.

 

 

Hari AIDS Sedunia, Momen STOP Penularan HIV: Saya Berani, Saya Sehat!

Hari pertama di bulan Desember setiap tahun diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia (HAS). Sejak tiga dasawarsa lalu, tanggal 1 Desember menjadi momentum untuk menumbuhkan kesadaran semua orang terhadap penyakit Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Seperti yang kita ketahui, tubuh manusia memiliki sel darah putih (limfosit) yang berguna sebagai pertahanan tubuh dari serangan virus maupun bakteri. Virus HIV yang masuk tubuh manusia dapat melemahkan bahkan mematikan sel darah putih dan memperbanyak diri, sehingga lemah melemahkan sistem kekebalan tubuhnya (CD4). Dalam kurun waktu 5-10 tahun setelah terinfeksi HIV, seseorang dengan HIV positif jika tidak minum obat anti retroviral (ARV), akan mengalami kumpulan gejala infeksi opportunistik yang disebabkan oleh penurunan kekebalan tubuh akibat tertular virus HIV, yang disebut AIDS.

Situasi HIV /AIDS di Indonesia

Permasalahan HIV dan AIDS menjadi tantangan kesehatan hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sejak pertama kali ditemukan sampai dengan Juni 2018, HIV/ AIDS telah dilaporkan keberadaannya oleh 433 (84,2%) dari 514 kabupaten/kota di 34 provinsi di Indonesia.

Jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan Juni 2018 sebanyak 301.959 jiwa (47% dari estimasi ODHA jumlah orang dengan HIV AIDS tahun 2018 sebanyak 640.443 jiwa) dan paling banyak ditemukan di kelompok umur 25-49 tahun dan 20-24 tahun. Adapun provinsi dengan jumlah infeksi HIV tertinggi adalah DKI Jakarta (55.099), diikuti Jawa Timur (43.399), Jawa Barat (31.293), Papua (30.699), dan Jawa Tengah (24.757).

Jumlah kasus HIV yang dilaporkan terus meningkat setiap tahun, sementara jumlah AIDS relatif stabil. Hal ini menunjukkan keberhasilan bahwa semakin banyak orang dengan HIV /AIDS (ODHA) yang diketahui statusnya saat masih dalam fase terinfeksi (HIV positif) dan belum masuk dalam stadium AIDS.

HIV itu ada obatnya, antiretroviral (ARV) namanya. Obat ARV mampu menekan jumlah virus HIV di dalam darah sehingga kekebalan tubuhnya (CD4) tetap terjaga. Sama seperti penyakit kronis lainnya seperti hipertensi, kolesterol, atau DM, obat ARV harus diminum secara teratur, tepat waktu dan seumur hidup, untuk meningkatkan kualitas hidup ODHA serta dapat mencegah penularan.

ARV dijamin ketersediaannya oleh pemerintah dan gratis pemanfaatannya. Pelayanan ARV sudah dapat diakses di RS dan Puskesmas di 34 provinsi, 227kab/kota. Total saat ini terdapat 896 layanan ARV, terdiri dari layanan yang dapat menginisiasi terapi ARV dan layanan satelit. Dukungan sosial dari keluarga dan lingkungan terdekat sangat dibutuhkan agar ODHA tetap semangat dan jangan sampai putus obat.

Data Kementerian Kesehatan tahun 2017 mencatat dari 48.300 kasus HIV positif yang ditemukan, tercatat sebanyak 9.280 kasus AIDS. Sementara data triwulan II tahun 2018 mencatat dari 21.336 kasus HIV positif, tercatat sebanyak 6.162 kasus AIDS. Adapun jumlah kumulatif kasus AIDS sejak pertama kali dilaporkan pada tahun 1987 sampai dengan Juni 2018 tercatat sebanyak 108.829 kasus.

Cegah HIV Meski Tidak Mudah Menular

Virus HIV tidak mudah menular, karena hanya dapat ditularkan melalui hubungan seksual yang tidak amanberisiko, berbagi jarum suntik, produk darah dan organ tubuh, serta dari ibu hamil yang positif dengan HIV dapat menularkan kepada bayinya. Perlu diketahui bahwa virus HIV tidak menular melalui penggunaan toilet bersama, gigitan nyamuk/ serangga, menggunakan alat makan bersama, bersalaman/ berpelukan, ataupun tinggal serumah dengan ODHA. Karenanya, berperilaku hidup bersih dan sehat dapat mencegah terjadinya penularan HIV dan tidak perlu menjauhi ODHA. Untuk itu, menjadi ODHA Terinfeksi HIV bukanlah penghalang untuk bersosialisasi, bekerja, dan berkeluarga.

Seseorang yang terinfeksi virus HIV berpotensi menularkan meski tidak memiliki ciri yang dapat dilihat secara kasat mata (fisik). Status HIV seseorang hanya dapat diketahui dengan melakukan cek/pemeriksaan darah di laboratorium. Karena itu, Jika merasa pernah melakukan perilaku berisiko atau merasa berisiko tertular segera lakukan tes HIV.

Secara khusus, bagi para pasien TBC juga perlu diperiksa status HIV-nya, apabila ternyata HIV nya positif, obat ARV dapat membantu keberhasilan pengobatan TBC. Demikian pula bagi para ibu hamil, saat memeriksakan kehamilannya sebaiknya diperiksa pula status HIV, sifilis dan hepatitis B, agar apabila positif dapat segera diberi tindakan pengobatan sehingga penularan kepada bayinya dapat diminimalisasi sehingga terjamin kesehatan baik ibu maupun anak yang dikandungnya.

Upaya pencegahan dan pengendalian HIV -AIDS bertujuan untuk mewujudkan target Three Zero pada 2030, yaitu: 1) Tidak ada lagi penularan infeksi baru HIV, 2) Tidak ada lagi kematian akibat AIDS, dan 3) Tidak ada lagi stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV AIDS (ODHA).

Pada Hari Aids Sedunia (HAS) tahun 2017 lalu, telah dicanangkan strategi Fast Track 90-90-90 yang meliputi:untuk mempercepat pencapaian 90% dari orang yang hidup dengan HIV (ODHA) mengetahui status HIV mereka melalui tes atau deteksi dini; 90% dari ODHA yang mengetahui status HIV untuk memulai terapi pengobatan ARV) dan 90% ODHA yang dalam pengobatan ARV telah berhasil menekan jumlah virusnya sehingga mengurangi kemungkinan penularan HIV; serta tidak ada lagi stigma dan diskriminasi ODHA.

Dalam rangka mencapai target Fast Track 90-90-90, Kementerian Kesehatan juga menggaungkan strategi akselerasi Suluh, Temukan, Obati dan Pertahankan (STOP) untuk mencapai target tahun 2030 tersebut. Tahun ini, diluncurkan pula strategi Test and Treat, yaitu ODHA dapat segera memulai terapi ARV begitu terdiagnosis mengidap HIV.

Selain itu, untuk pencegahan infeksi dan penularan HIV, masyarakat perlu mengingat hal-hal berikut:
# Bagi yang belum pernah melakukan perilaku berisiko, pertahankan perilaku aman (dengan tidak melakukan perilaku seks berisiko atau menggunakan narkoba suntik);
# Bila sudah pernah melakukan perilaku berisiko, lakukan tes HIV segera!
Bila tes HIV negatif, tetap berperilaku aman dari hal-hal yang berisiko menularkan HIV;
# Bila tes HIV positif, selalu gunakan kondom saat berhubungam seksual, serta patuhi petunjuk dokter dan minum obat ARV, agar hidup tetap produktif walaupun positif HIV;
#Jika bertemu ODHA, bersikap wajar dan jangan mendiskriminasi atau memberikan cap negatif, dan berikan dukungan; dan
# Jika berinteraksi dengan ODHA, jangan takut tertular, karena virus HIV tidak menular baik itu melalui sentuhan, keringat, maupun berbagi makanan. HIV hanya menular melalui cairan kelamin dan darah.
Reply
Forward

UNIVERSAL HEALTH COVERAGE DI KOTA MANADO.

Pemerintah menargetkan Indonesia akan mencapai Universal Health Coverage (UHC) atau cakupan kesehatan menyeluruh bagi seluruh penduduk Indonesia pada 1 Januari 2019 mendatang. Setiap tahun BPJS Kesehatan menargetkan jumlah penduduk yang menjadi peserta terus bertambah dari 156,7 juta jiwa (2015) ke 188,7 juta (2016), 223 juta (2017), 235,1 juta (2018), dan mencapai 257,5 juta atau seluruh penduduk pada 2019. Sejak Tahun 2014 Pemerintah sudah merencanakan menerapkan UHC jaminan kesehatan, artinya seluruh penduduk menjadi peserta program jaminan kesehatan. Dengan demikian, seluruh penduduk, kaya atau miskin dijamin untuk memperoleh pelayanan kesehatan perseorangan berupa pelayanan kesehatan yang mencakup pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, termasuk obat dan bahan medis habis pakai yang diperlukan.

Dukungan pemerintah daerah terhadap keberlangsungan program JKN-KIS dan mencapai UHC ini sangat strategis. Salah satunya dengan mengintegrasikan program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) ke program JKN-KIS. Integrasi Jamkesda merupakan sinergitas penyelenggaraan jaminan kesehatan bagi penduduk yang didaftarkan oleh pemda dengan skema JKN-KIS yang dikelola oleh BPJS Kesehatan. Dukungan pemda ini meliputi penganggaran APBD, kepesertaan, Peraturan Daerah (Perda), maupun pembangunan infrastruktur pelayanan kesehatan.

Di Kota Manado sejak bulan Desember 2018, dari total penduduk Kota Manado sebanyak 519.090 (Data DisDukCapil) terdapat 97,9 % atau 508.214 jiwa yang sudah ikut ke JKN sebagai peserta BPJS Kesehatan, sedangkan yang belum menjadi peserta JKN sebanyak 10.876 jiwa (2,1%). Adapun jumlah penduduk yang didaftarkan oleh Pemerintah Kota Manado sebanyak 110.006 jiwa, dengan dana bersumber dari APBD Kota Manado. Hal ini merupakan bentuk dukungan Pemerintah Kota Manado untuk mendukung tercapainya UHC di Kota Manado dan Provinsi Sulawesi Utara.

Perlu diketahui bahwa peserta JKN yang didaftarkan oleh Pemerintah Kota Manado mendapatkan fasilitas pelayanan kesehatan kelas III, dan tidak bisa meminta untuk mendapatkan pelayanan di ruang VIP atau naik kelas ke kelas I atau II. Bila peserta yang sudah didaftarkan oleh Pemerintah Kota Manado menginginkan pelayanan seperti itu, maka peserta tersebut harus menjadi peserta JKN mandiri sesuai kemampuan apakah di kelas I, II atau kelas III, dengan cara melapor ke BPJS Kesehatan Cabang Manado.

Jangan Jauhi ODHA, HIV/AIDS tidak Mudah Menular

Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) memiliki hak yang sama dengan orang lain dalam kehidupannya. Namun tak jarang dari mereka mengalami diskriminasi seperti dikucilkan oleh orang di lingkungannya karena takut tertular virus HIV. Padahal virus HIV tidak mudah menular, bahkan cara penularannya pun sangat terbatas.
Terdapat empat cara penularan HIV/AIDS, yaitu hubungan seksual, berbagi jarum suntik, produk darah dan organ tubuh, dan ibu hamil positif HIV ke bayinya.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Wiendra Waworuntu, M. Kes mengatakan virus HIV menular kalau melakukan hubungan seks yang tidak aman. Hubungan seks yang aman adalah apabila dia menikah dan berhubungan dengan istrinya, tidak berganti pasangan baik pria atau wanita.
”Tapi kalau menikah dengan orang positif HIV, maka supaya aman harus pakai kondom,” kata dr. Wiendra pada Temu Bloger tentang Hari AIDS Sedunia 2018 di Lapas Narkotika kelas IIA Cipinang, Jakarta Timur, Senin (17/12).
Penularan lainnya melalui jarum suntik yang digunakan oleh lebih dari satu orang pada saat mengonsumsi Narkoba. Transfusi darah yang tidak aman pun menyebabkan penularan virus HIV, tapi, kata dr. Wiendra di seluruh Indonesia transfusi darah sudah aman. Artinya, orang yang akan transfusi darah itu akan diketahui melalui screening sebelum transfusi dilakukan.
Penularan yang terakhir adalah ibu hamil postif HIV ke bayinya. Arah kebijakan pemerintah, seluruh ibu hamil harus discreening.
”Jadi kalau ibu hamil positif HIV maka langsung diintervensi karena akan menularkan ke bayinya,” ucap dr. Wiendra.
Ia menambahkan virus HIV tidak akan menular kalau ciuman, berpelukan, penggunaan WC bersama, bersentuhan, menggunakan alat makan bersama, gigitan nyamuk, dan tinggal serumah bersama ODHA.
Untuk mencegahnya dengan tidak melakukan hubungan seksual berisiko seperti ganti-ganti pasangan, mengikuti program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak, screening darah donor dan organ tubuh, tidak menggunakan narkoba, dan menerapkan kewaspadaan.
Status HIV seseorang tidak dapat diketahui hanya dengan melihatnya. Bila belum muncul gejala, tidak dapat terlihat terinfeksi atau tidak, sementara dalam darah sudah terdapat virus dan dapat menularkan pada orang lain.
Untuk mengetahui status HIV seseorang hanya dapat dilakukan dengan caranya pemeriksaan antibody HIV dalam darah. Jika sudah diketahui positif maka segera konsumsi obat antiretroviral.
Dr. Wiendra mengharapkan tidak ada lagi ODHA yang dikucilkan. Mereka memiliki hak yang sama dalam bersosialisasi atau pekerjaan.