REKRUTMEN ENUMERATOR TANGGAL 25 – 27 FEBRUARI 2019

Salam sehat 🤚

Pelaksanaan Rekrutmen Enumerator FKTP dalam rangka Riset Fasilitas Kesehatan (Rifaskes) 2019

👩🏻‍💻👨🏻‍💻KRITERIA ENUMERATOR FKTP RIFASKES 2019:

1. Latar belakang pendidikan minimal D3 bidang kesehatan.
2. Di setiap TIM FKTP, salah satu enumerator adalah perawat/bidan.
3. Usia < 45 tahun saat pelaksanaan pengumpulan data Rifaskes 2019 (foto copy KTP).
4. Diutamakan Non PNS, non Pegawai swasta.
5. Untuk PNS/Pegawai Swasta harus mendapat izin tertulis dari atasan langsung.

📃Dokumen yang disiapkan:

1. Biodata/CV
2. Surat lamaran ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Manado
3. Ijazah yang dilegalizir
4. Fotokopi KTP
5. Sertifikat pernah mengikuti pelatihan sebagai enumerator
6. Foto Copy kartu jaminan kesehatan (BPJS atau asuransi kesehatan lain)
7. Pas Foto Ukuran 4 x 6 (2 lembar)
8. Surat Keterangan sehat jasmani dan rohani, serta keterangan tidak hamil khusus untuk wanita dari Puskesmas setempat
9. Surat Pernyataan bermeterai Rp.6.000
– Tidak sedang menjalani pendidikan
– Tidak terlibat dalam Riset lain
– Bersedia ditempatkan dimanapun
– Bersedia mengikuti seluruh rangkaian penelitian
– Tidak hamil dan bersedia tidak hamil selama pengumpulan data untuk wanita

🗓 Pendaftaran di buka mulai tanggal 25 – 27 Februari 2019 pada saat jam kerja.

🗂Berkas di dalam map, dan dapat diserahkan ke Dinas Kesehatan Kota Manado Seksi Sumber Daya Manusia Kesehatan, Bidang SDK.

Terima kasih🙏

Deteksi Dini Cegah Kanker

Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa

Satu gigitan anjing bisa merenggut nyawa manusia. Gigitan anjing ini bisa menularkan penyakit rabies kepada manusia yang berujung pada kematian. Rabies menyerang sistem saraf pada manusia dan hewan berdarah panas (anjing, kucing, kera) yang disebabkan oleh virus rabies.
Virus rabies bisa menular melalui gigitan dan non gigitan (goresan, cakaran atau jilatan) pada kulit yang terbuka (luka) oleh hewan yang terinfeksi virus rabies.
”Setelah masuk ke dalam tubuh, virus rabies bereplikasi dan menjalar dari susunan syaraf perifer ke susunan syaraf pusat,” kata Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes dr. Siti Nadia Tarmizi, di Jakarta (27/2)
Gejala klinis akan muncul setelah virus rabies mencapai susunan saraf pusat dan menginfeksi seluruh neuron terutama di sel-sel limbik, hipotalamus dan batang otak. Virus rabies menyebar melalui sistem saraf, sehingga tidak terdeteksi melalui pemeriksaan darah.
”Hingga saat ini belum ada teknologi yang bisa mendiagnosa dini sebelum muncul gejala klinis rabies,” terang Nadia.
Gejala rabies pada hewan sangat bervariasi, antara lain: adanya perubahan tingkah laku seperti mencari tempat yang dingin dan menyendiri, agresif atau menggigit benda-benda yang bergerak termasuk terhadap pemilik, pica (memakan benda-benda yang tidak seharusnya menjadi makanannya), hiperseksual, mengeluarkan air liur berlebihan, inkoordinasi, kejang-kejang, paralisis/lumpuh dan akan mati dalam waktu 14 hari namun umumnya mati pada 2-5 hari setelah tanda-tanda tersebut terlihat.
Sementara rabies pada manusia adalah menunjukkan gejala radang otak akut (encephalitis) seperti hiperaktifitas, kejang, atau kelumpuhan (paresis/paralisis), terjadi koma dan biasanya meninggal karena gagal pernafasan pada hari ke 7 10 sejak timbul gejala pertama (onset) dan mempunyai riwayat gigitan oleh hewan penular rabies (HPR).
”Apabila penderita rabies telah menunjukan tanda klinis, biasanyaa berujung pada kematian baik pada hewan maupun manusia. Biasanyaa hewan rabies akan mudah agresif menyerang manusia tanpa sebab, kondisi ini mengakibatkan timbulnya rasa takut dan kekhawatiran bagi masyarakat,” jelas Nadia.
Pencegahan Rabies
Pencegahan rabies dilakukan dengan melakukan tatalaksana luka gigitan hewan penular rabies (GHPR). Pertama, melakukan pencucian luka gigitan dengan menggunakan air dan sabun selama kurang lebih 15 menit. Pencucian ini harus segera dilakukan setelah terjadi pajanan (jilatan, cakaran atau gigitan) oleh hewan penular rabies (HPR) untuk membunuh virus rabies yang berada di sekitar luka gigitan.
Kedua, memberikan Antiseptik setelah dilakukan pencucian luka untuk membunuh virus rabies yang masih tersisa di sekitar luka gigitan. Antiseptik yang dapat diberikan diantaranya povidon iodine, alkohol 70%, dan zat antiseptik lainnya.
Ketiga, pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR) untuk membangkitkan sistem imunitas dalam tubuh terhadap virus rabies dan antibodi yang terbentuk bisa menetralisasi virus rabies sesuai dengan kriteria.
VAR diberikan pada hari ke-0 sebanyak 2 dosis (pada lengan kanan & kiri), hari ke-7 sebanyak 1 dosis (pada lengan kanan/kiri) dan hari ke-21 sebanyak 1 dosis (pada lengan kanan/kiri). Sedangkan SAR diberikan bersamaan dengan pemberian VAR pada hari ke-0 secara infiltrasi di sekitar luka sebanyak mungkin, lalu sisanya disuntikkan.
Pemberian VAR dan SAR perlu dipertimbangkan kondisi hewan pada saat pajanan terjadi, hasil observasi hewan, hasil pemeriksaan laboratorium spesimen otak hewan, serta kondisi luka yang ditimbulkan.
Untuk kategori luka risiko tinggi, yaitu jilatan/luka pada mukosa, luka di atas daerah bahu (leher, muka dan kepala), luka pada jari tangan dan jari kaki, luka di area genitalia, luka yang lebar/dalam, atau luka multiple (multiple wound) perlu diberikan VAR dan SAR. Sedangkan luka risiko rendah, yaitu jilatan pada kulit terbuka atau cakaran / gigitan kecil yang menimbulkan luka lecet di area badan, tangan dan kaki yang tidak banyak persyarafan cukup diberikan VAR.
Di sisi lain lakukan observasi hewan (kandangkan atau ikat hewan) yang menggigit selama 14 hari. Sebaiknya hentikan pemberian VAR bila hasil observasi hewan menunjukkan hewan sehat, atau hasil pemeriksaan laboratorium terhadap spesimen otak hewan menunjukkan hasil negatif.