Pencegahan penularan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

Penyakit DBD adalah penyakit infeksi oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes, dengan gejala demam tinggi mendadak disertai manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan renjatan dan kematian. Sampai sekarang penyakit DBD belum ditemukan obat maupun vaksinnya, sehingga satu-satunya cara untuk mencegah terjadinya penyakit ini dengan pengendalian vektor.

Pengendalian vektor pembawa virus Dengue dengan penyemprotan (fogging) insektisida tidak efektif oleh karena nyamuk Aedes mempunyai kemampuan menularkan virus kepada keturunannya secara transovarial atau melalui telurnya. Keturunan nyamuk yang menetas dari telur nyamuk terinfeksi virus DBD secara otomatis menjadi nyamuk terinfeksi yang dapat menularkan virus DBD kepada inangnya yaitu manusia. Penyemprotan insektisida dilakukan sesuai indikasi setelah dilakukan tindakan penyelidikan epidemiologi, untuk mencari sumber penularan. Adapun indikasinya adalah ketika ditemukan jentik nyamuk Aedes di rumah penderita disertai beberapa kasus penderita yang positif menderita DBD disekitar tempat tersebut.

Pengendalian vektor dengan penggunaan insektisida (fogging) seringkali belum maksimal oleh karena sering penderita yang dirawat di Rumah Sakit tidak mencantumkan alamat yang jelas sehingga petugas Puskesmas tidak menemukan alamat tempat tinggal penderita untuk dilakukan penyelidikan epidemiologis. Diperkirakan terdapat 30-40% kasus DBD di Kota Manado tidak difogging oleh petugas karena alamat penderita yang tidak ditemukan oleh petugas Puskesmas. Hal ini menyebabkan proses penyebaran DBD masih terjadi di Kota Manado.

Disarankan agar penderita DBD dan keluarganya ketika di rawat dapat mencantumkan alamat yang jelas misalnya nama kelurahan, lingkungan, ataupun disertai dengan penanda yang lain misalnya disamping Rumah Ibadah A, disamping sekolah, dan lain-lain yang dapat memudahkan petugas untuk melakukan pelacakan kasus dan penyelidikan epidemiologi.

 

 

 

 

 

 

 

Pencegahan dan Vaksin DBD

Penyakit DBD adalah penyakit infeksi oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes, dengan gejala demam tinggi mendadak disertai manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan renjatan dan kematian. Sampai sekarang penyakit DBD belum ditemukan obat, sehingga satu-satunya cara untuk mencegah terjadinya penyakit ini dengan pengendalian vektor.

Pengendalian vektor pembawa virus Dengue dengan fogging insektisida tidak efektif oleh karena nyamuk Aedes mempunyai kemampuan menularkan virus kepada keturunannya secara transovarial atau melalui telurnya. Keturunan nyamuk yang menetas dari telur nyamuk terinfeksi virus DBD secara otomatis menjadi nyamuk terinfeksi yang secara langsung dapat menularkan virus DBD kepada inangnya yaitu manusia.

Dengan demikian maka kita harus menjadikan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dikenal sebagai gerakan (3M+) sebagai benteng utama usaha pengendalian vektor. Usaha ini harus dilakukan secara intensif dan berkelanjutan pelaksanaan usaha tersebut dapat menekan masalah DBD yang selalu menjadi masalah setiap tahunnya.

Vaksin DBD

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa vaksin dengue sebagai cara mencegah dan obat demam berdarah dapat diberikan pada orang-orang yang berusia 9-45 tahun, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah rawan DBD. Vaksin dengue tetap dapat diberikan meskipun Anda sudah pernah menderita demam berdarah sebelumnya. Seperti yang telah dijelaskan di atas, virus Dengue memiliki 4 serotipe yang berbeda. Lewat vaksin dengue, tubuh Anda dapat membangun kekebalan terhadap semua serotipe virus DBD.

Vaksin dengue sudah ada di Indonesia sejak tahun 2016, namun sedang dalam tahap penelitian uji klinis fase III untuk menguji manfaat dan keamanan vaksin. Fase III adalah fase terakhir sebelum akhirnya dipasarkan dan diamati efektivitasnya dalam skala besar.

Meski belum tersedia meluas, namun vaksin dengue ini sudah disetujui oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Saat ini terdapat 10 negara di dunia yang telah menyetujui penggunaan vaksin dengue yaitu Indonesia, Filipina, Vietnam, Thailand, Malaysia, Brazil, Puerto Rico, Meksiko, Honduras, dan Kolombia. Untuk mendapatkan vaksin dengue, bisa datang langsung ke rumah sakit atau klinik kesehatan terdekat dan tanyakan ketersediannya atau bisa dicari di apotek-apotek.Vaksin ini belum tersedia di Puskesmas karena belum masuk ke dalam program imunisasi nasional. Saat ini harganya masih tergolong cukup mahal yaitu sekitar 1 juta rupiah per 1 kali suntik vaksin.

Vaksin dengue akan paling efektif sebagai pencegahan sekaligus obat demam berdarah ketika diberikan pada anak yang berusia 9-16 tahun. Namun jika anak Anda belum mencapai usia ini, sebaiknya jangan dulu berikan vaksin dengue. Karena jika vaksin dengue diberikan terlalu dini pada anak di bawah usia 9 tahun, vaksin ini dapat meningkatkan risiko anak menjalani opname yang membutuhkan waktu lama. Risikonya untuk menderita DBD berat juga dapat meningkat, yang tentu membawa risiko bahaya dan komplikasinya tersendiri.

 

 

UNIVERSAL HEALTH COVERAGE DI KOTA MANADO.

Pemerintah menargetkan Indonesia akan mencapai Universal Health Coverage (UHC) atau cakupan kesehatan menyeluruh bagi seluruh penduduk Indonesia pada 1 Januari 2019 mendatang. Setiap tahun BPJS Kesehatan menargetkan jumlah penduduk yang menjadi peserta terus bertambah dari 156,7 juta jiwa (2015) ke 188,7 juta (2016), 223 juta (2017), 235,1 juta (2018), dan mencapai 257,5 juta atau seluruh penduduk pada 2019. Sejak Tahun 2014 Pemerintah sudah merencanakan menerapkan UHC jaminan kesehatan, artinya seluruh penduduk menjadi peserta program jaminan kesehatan. Dengan demikian, seluruh penduduk, kaya atau miskin dijamin untuk memperoleh pelayanan kesehatan perseorangan berupa pelayanan kesehatan yang mencakup pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, termasuk obat dan bahan medis habis pakai yang diperlukan.

Dukungan pemerintah daerah terhadap keberlangsungan program JKN-KIS dan mencapai UHC ini sangat strategis. Salah satunya dengan mengintegrasikan program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) ke program JKN-KIS. Integrasi Jamkesda merupakan sinergitas penyelenggaraan jaminan kesehatan bagi penduduk yang didaftarkan oleh pemda dengan skema JKN-KIS yang dikelola oleh BPJS Kesehatan. Dukungan pemda ini meliputi penganggaran APBD, kepesertaan, Peraturan Daerah (Perda), maupun pembangunan infrastruktur pelayanan kesehatan.

Di Kota Manado sejak bulan Desember 2018, dari total penduduk Kota Manado sebanyak 519.090 (Data DisDukCapil) terdapat 97,9 % atau 508.214 jiwa yang sudah ikut ke JKN sebagai peserta BPJS Kesehatan, sedangkan yang belum menjadi peserta JKN sebanyak 10.876 jiwa (2,1%). Adapun jumlah penduduk yang didaftarkan oleh Pemerintah Kota Manado sebanyak 110.006 jiwa, dengan dana bersumber dari APBD Kota Manado. Hal ini merupakan bentuk dukungan Pemerintah Kota Manado untuk mendukung tercapainya UHC di Kota Manado dan Provinsi Sulawesi Utara.

Perlu diketahui bahwa peserta JKN yang didaftarkan oleh Pemerintah Kota Manado mendapatkan fasilitas pelayanan kesehatan kelas III, dan tidak bisa meminta untuk mendapatkan pelayanan di ruang VIP atau naik kelas ke kelas I atau II. Bila peserta yang sudah didaftarkan oleh Pemerintah Kota Manado menginginkan pelayanan seperti itu, maka peserta tersebut harus menjadi peserta JKN mandiri sesuai kemampuan apakah di kelas I, II atau kelas III, dengan cara melapor ke BPJS Kesehatan Cabang Manado.

PENGENDALIAN RESISTENSI ANTIMIKROBA JADI PERHATIAN DUNIA

Resistensi Antimikroba telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia. Dalam laporannya tahun 2014, WHO menyatakan bahwa masalah ini merupakan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, termasuk di Indonesia. Masalah ini muncul akibat penggunaan antimikroba yang tidak bijak yang berujung pada tidak efektifnya terapi antimikroba. 

Meski resistensi antimikroba dianggap penting dan strategis dalam kesehatan masyarakat, masalah ini belum mendapatkan perhatian luas untuk dikembangkan melalui penelitian dan inovasi.

Dari hasil analisis yang dilakukan oleh konsultan WHO pada saat penyusunan rencana aksi terungkap bahwa walaupun pelaksanaan awal telah berlangsung dan berkembangseperti kewaspadaan dan surveilans, namun pengendalian resistensi antimikroba belum dilaksanakan secara komprehensif dan terpadu secara lintas sektor.

Sumber: Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI.

PEMILIK DAN PIMPINAN SARANA PELAYANAN KESEHATAN DILARANG MEMPEKERJAKAN TENAGA KESEHATAN YANG TIDAK MEMILIKI IZIN PRAKTIK

Pemilik dan pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dilarang mengizinkan tenaga kesehatan yang tidak memiliki izin praktik untuk berpraktik pada fasilitas tersebut, hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit,  Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan dan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan.

Disinyalir saat ini, banyak terdapat tenaga kesehatan yang berpraktik pada fasilitas pelayanan kesehatan namun tidak memiliki izin praktik.

Pasal 42 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran sudah menegaskan bahwa pimpinan sarana pelayanan kesehatan dilarang mengizinkan dokter atau dokter gigi yang tidak memiliki surat izin praktik untuk melakukan praktik kedokteran di sarana pelayanan kesehatan tersebut.

 

Tuberkulosis dan Pengobatan

Tuberkulosis (TB) atau yang lebih dikenal dengan sebutan TBC penyakit menular yang disebabkan kuman TB Mycobacterium tuberculosis yang masuk ke tubuh melalui pernafasan. TB merupakan penyakit infeksi menular yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru. Penyakit TB merupakan masalah kesehatan terbesar di dunia, setelah HIV sehingga harus ditangani dengan serius.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2014, kasus TB di Indonesia mencapai 1.000.000 kasus dan jumlah kematian akibat TB diperkirakan 110.000 kasus setiap tahunnya.

Gejala TB diantaranya: (1) batuk berdahak lebih dari 2 minggu, (2) mengalami sesak nafas, (3) berat badan menurun, dan (4) keringat di malam hari tanpa aktifitas. Jika ditemukan gejala, maka segeralah berobat  ke Puskesmas atau ke Klinik terdekat untuk diperiksa dahaknya.

Obat TB diberikan secara GRATIS, namun harus diminum TERATUR sesuai aturan dari dokter untuk mencegah dari kebal terhadap obat TB, karena jika pengobatan TB tidak dilakukan dengan tepat maka kuman TB akan menjadi kebal terhadap pengobatan, dikenal dengan sebutan Tuberculosis Multi-drug Resistant (TB MDR) atau Tuberculosis Extensively-drug Resistant (TB XDR).

Hal ini harus dicegah karena apabila kuman TB telah kebal terhadap pengobatan TB yang ada, maka harus diberikan obat anti TB jenis lain yang harganya mahal dan pengobatannya memakan waktu yang lebih lama, jelas Menkes.

Seluruh Puskesmas di Indonesia telah dapat memberikan pelayanan pengobatan TB. Di samping itu, sebagian klinik, RS, dokter praktik swasta telah mampu memberikan pelayanan pengobatan TB.

Sepanjang 7 dasawarsa terakhir, pasien TB  yang diobati dan dilayani berjumlah lebih dari 300.000 pasien TB per tahun. Keberhasilan pengobatan TB di Indonesia atau success rate juga sangat menggembirakan karena mencapai sekitar 90%. Ini berarti 90% pasien TB yang diobati di Indonesia dapat disembuhkan.

Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) harus dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)

Penyakit DBD adalah penyakit infeksi oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes, dengan gejala demam tinggi mendadak disertai manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan renjatan dan kematian. Sampai sekarang penyakit DBD belum ditemukan obat maupun vaksinnya, sehingga satu-satunya cara untuk mencegah terjadinya penyakit ini dengan pengendalian vektor. Pengendalian vektor pembawa virus Dengue dengan fogging insektisida tidak efektif oleh karena nyamuk Aedes mempunyai kemampuan menularkan virus kepada keturunannya secara transovarial atau melalui telurnya.

Roche (2002) melaporkan bahwa hanya A. albopictus yang mampu menularkan virus melalui keturunannya sementara Ae. Aegypti tidak, Sementara Maurya dkk. (2001), Joshi dkk. (2002) dan Rohani dkk. (2005) menegaskan bahwa kedua spesies itu dapat menularkan virus pada keturunannya. Penelitian dari Yulfi (2006) menyatakan bahwa Ae. Aegypti mempunyai kemampuan untuk menularkan virus terhadap keturunannya.

Rohani dkk. (2005) menemukan bahwa larva terinfeksi virus DBD tersebut di 16 lokasi penelitiannya di Malaysia mempunyai laju infeksi virus lebih tinggi pada Ae. aegypti (13,7%) dibandingkan pada Ae. albopictus (4,2%). Keturunan nyamuk yang menetas dari telur nyamuk terinfeksi virus DBD secara otomatis menjadi nyamuk terinfeksi yang dapat menularkan virus DBD kepada inangnya yaitu manusia

Dengan demikian maka kita harus menjadikan gerakan PSN (3M+) sebagai benteng utama usaha pengendalian vektor. Keintensifan dan berkelanjutan pelaksanaan usaha tersebut dapat menekan masalah DBD yang selalu menjadi masalah setiap tahunnya.

 

 

 

 

 

 

Upaya Penanggulangan Penyakit Menular Yang Dapat Menimbulkan Wabah

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 1501 tahun 2010 mengatur tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu Yang Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangan. Adapun penetapan jenis-jenis penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan wabah didasarkan pada pertimbangan epidemiologis, sosial budaya, keamanan, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan menyebabkan dampak malapetaka di masyarakat.

Terdapat 18 Penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan wabah, yaitu; (1) Kolera, (2) Pes, (3) Demam Berdarah Dengue, (4) Campak, (5) Polio, (6) Difteri, (7) Pertusis, (8) Rabies, (9) Malaria, (10) Avian Influenza H5N1, (11) Antraks, (12) Leptospirosis, (13) Hepatitis, (14) Influensa (15) Influenza A baru (H1N1) / Pandemi tahun 2009, (16) Meningitis, (17) Yellow Fever, dan (18) Chikungunya.

Salah satu upaya penanggulangan adalah berupa penyelidikan epidemiologi. Penyelidikan epidemiologi adalah penyelidikan yang dilakukan untuk mengenal sifat-sifat penyebab penyakit, sumber dan cara penularan serta faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya wabah. Contoh pada kasus penyakit Demam Berdarah Dengue, maka petugas akan mengunjungi rumah penderita untuk mencari tau asal dan sumber penularan sehingga dapat dilakukan tindakan yang perlu untuk pengendalian penyakit misalnya dengan tindakan pengasapan (fogging) sehingga mengurangi kemungkinan orang lain untuk tertular penyakit tersebut.

Kendala yang dihadapi dalam upaya penyelidikan epidemiologi adalah alamat penderita yang masuk rumah sakit dengan diagnosa penyakit yang berpotensi wabah seringkali tidak jelas, juga termasuk penderita yang berasal dari luar Kota Manado. Hal ini membuat petugas kesulitan untuk menemukan tempat tinggal penderita tersebut sehingga upaya penanggulangan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Diharapkan agar penderita dan keluarga penderita dapat memberikan alamat yang jelas, misalnya selain mencantumkan alamat Lingkungan dan Kelurahan juga marka atau penunjuk tempat seperti disamping bangunan/gedung A, sehingga upaya penanggulangan bisa lebih efektif dan efisien. Selain itu petugas kesehatan diharapkan dapat mendata alamat penderita dengan jelas.

 

 

 

Ebola, Fakta dan Cara Menghindarinya

Ebola adalah penyakit menular yang bisa berakibat kematian. Virus ebola diduga berasal dari kelelawar buah dan pertama kali dideteksi pada 1976 dekat Sungai Ebola di Congo. Virus ebola telah menewaskan ribuan orang di Afrika Barat.

Virus ebola menular lewat darah, muntah, feses, dan cairan tubuh lainnya dari manusia pengidap ebola ke manusia lain. Virus juga bisa ditemukan dalam air seni dan cairan sperma. Penyakit ini tidak menular lewat udara, seperti flu. Setelah terinfeksi, virus membutuhkan waktu dua hingga 21 hari untuk akhirnya menunjukan gejala. Infeksi terjadi ketika cairan-cairan tubuh tersebut menyentuh mulut, hidung, atau luka terbuka orang sehat.

Gejala awal adalah demam mendadak, nyeri otot, kelelahan, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Diikuti dengan muntah, diare, ruam dan perdarahan internal, maupun eksternal, yang dapat dilihat pada gusi, mata, hidung dan tinja. Pasien cenderung meninggal karena dehidrasi dan kegagalan organ.

Belum ada vaksinasi untuk mencegah ebola. Belum ditemukan pula obat yang secara pasti dinyatakan bisa menyembuhkan pasien pengidap ebola. Satu-satunya cara tidak tertular adalah dengan menjalankan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti mencuci tangan dengan air dan sabun.
Badan Kesehatan Dunia juga mengeluarkan peringatan agar berhati-hati mengonsumsi daging satwa liar mentah dan kontak dengan kelelawar, monyet, atau kera yang terinfeksi.
(dikutip dari: promkes.depkes.go.id)

Semakin Lama Minum ASI, Menurunkan Agresivitas Anak

Baru-baru ini kriminalitas yang di kalangan anak sedang meningkat seperti pada beberapa kasus bunuh diri hingga membunuh teman hanya karena masalah sepele. Ternyata, menurut sebuah penelitian jangka waktu pemberian laktasi adalah salah satu faktor kunci yang memengaruhi tingkat agresivitas anak.

“Penelitian tersebut dikerjakan selama 14 tahun kepada 2900 bayi yang baru lahir. Selama itu bayi tersebut dicek tingkah lakunya,” kata dr Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM-SELASI. Hal ini dikatakannya pada acara Training Edukasi Laktasi sehat bersama BCA yang ditulis pada Jumat, (5/7/2013), bertempat di Hotel Indonesia Kempinski, Jl MH Thamrin, Jakarta.

dr Utami mengatakan hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa semakin lama bayi disusui maka semakin jarang juga kasus mental health pada anak. “Kasus seperti withdrawall, anciety, depresif, psikosomatis, autisme, agresif, dan social problem akan berkurang jika bayi disusui lebih lama,” jelasnya.

Utami menyayangkan tingginya kasus kriminalitas anak dan ia pun mempertanyakan bagaimana serta seberapa lama anak-anak tersebut mendapatkan ASI. “Karena memang terbukti ASI memiliki pengaruh terhadap hal-hal ini,” ujarnya.

Nah, memberikan ASI tidak hanya dapat membangun ikatan yang kuat antara ibu dan anak. Bahkan dengan memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan hingga 2 tahun ibu sudah berhasil menurunkan tingkat agresivitas anak sehingga anak terhindar dari gangguan kesehatan jiwa.

(dikutip dari: promkes.depkes.go.id)