Tuberkulosis dan Pengobatan

Tuberkulosis (TB) atau yang lebih dikenal dengan sebutan TBC penyakit menular yang disebabkan kuman TB Mycobacterium tuberculosis yang masuk ke tubuh melalui pernafasan. TB merupakan penyakit infeksi menular yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru. Penyakit TB merupakan masalah kesehatan terbesar di dunia, setelah HIV sehingga harus ditangani dengan serius.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2014, kasus TB di Indonesia mencapai 1.000.000 kasus dan jumlah kematian akibat TB diperkirakan 110.000 kasus setiap tahunnya.

Gejala TB diantaranya: (1) batuk berdahak lebih dari 2 minggu, (2) mengalami sesak nafas, (3) berat badan menurun, dan (4) keringat di malam hari tanpa aktifitas. Jika ditemukan gejala, maka segeralah berobat  ke Puskesmas atau ke Klinik terdekat untuk diperiksa dahaknya.

Obat TB diberikan secara GRATIS, namun harus diminum TERATUR sesuai aturan dari dokter untuk mencegah dari kebal terhadap obat TB, karena jika pengobatan TB tidak dilakukan dengan tepat maka kuman TB akan menjadi kebal terhadap pengobatan, dikenal dengan sebutan Tuberculosis Multi-drug Resistant (TB MDR) atau Tuberculosis Extensively-drug Resistant (TB XDR).

Hal ini harus dicegah karena apabila kuman TB telah kebal terhadap pengobatan TB yang ada, maka harus diberikan obat anti TB jenis lain yang harganya mahal dan pengobatannya memakan waktu yang lebih lama, jelas Menkes.

Seluruh Puskesmas di Indonesia telah dapat memberikan pelayanan pengobatan TB. Di samping itu, sebagian klinik, RS, dokter praktik swasta telah mampu memberikan pelayanan pengobatan TB.

Sepanjang 7 dasawarsa terakhir, pasien TB  yang diobati dan dilayani berjumlah lebih dari 300.000 pasien TB per tahun. Keberhasilan pengobatan TB di Indonesia atau success rate juga sangat menggembirakan karena mencapai sekitar 90%. Ini berarti 90% pasien TB yang diobati di Indonesia dapat disembuhkan.

Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) harus dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)

Penyakit DBD adalah penyakit infeksi oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes, dengan gejala demam tinggi mendadak disertai manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan renjatan dan kematian. Sampai sekarang penyakit DBD belum ditemukan obat maupun vaksinnya, sehingga satu-satunya cara untuk mencegah terjadinya penyakit ini dengan pengendalian vektor. Pengendalian vektor pembawa virus Dengue dengan fogging insektisida tidak efektif oleh karena nyamuk Aedes mempunyai kemampuan menularkan virus kepada keturunannya secara transovarial atau melalui telurnya.

Roche (2002) melaporkan bahwa hanya A. albopictus yang mampu menularkan virus melalui keturunannya sementara Ae. Aegypti tidak, Sementara Maurya dkk. (2001), Joshi dkk. (2002) dan Rohani dkk. (2005) menegaskan bahwa kedua spesies itu dapat menularkan virus pada keturunannya. Penelitian dari Yulfi (2006) menyatakan bahwa Ae. Aegypti mempunyai kemampuan untuk menularkan virus terhadap keturunannya.

Rohani dkk. (2005) menemukan bahwa larva terinfeksi virus DBD tersebut di 16 lokasi penelitiannya di Malaysia mempunyai laju infeksi virus lebih tinggi pada Ae. aegypti (13,7%) dibandingkan pada Ae. albopictus (4,2%). Keturunan nyamuk yang menetas dari telur nyamuk terinfeksi virus DBD secara otomatis menjadi nyamuk terinfeksi yang dapat menularkan virus DBD kepada inangnya yaitu manusia

Dengan demikian maka kita harus menjadikan gerakan PSN (3M+) sebagai benteng utama usaha pengendalian vektor. Keintensifan dan berkelanjutan pelaksanaan usaha tersebut dapat menekan masalah DBD yang selalu menjadi masalah setiap tahunnya.

 

 

 

 

 

 

Upaya Penanggulangan Penyakit Menular Yang Dapat Menimbulkan Wabah

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 1501 tahun 2010 mengatur tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu Yang Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangan. Adapun penetapan jenis-jenis penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan wabah didasarkan pada pertimbangan epidemiologis, sosial budaya, keamanan, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan menyebabkan dampak malapetaka di masyarakat.

Terdapat 18 Penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan wabah, yaitu; (1) Kolera, (2) Pes, (3) Demam Berdarah Dengue, (4) Campak, (5) Polio, (6) Difteri, (7) Pertusis, (8) Rabies, (9) Malaria, (10) Avian Influenza H5N1, (11) Antraks, (12) Leptospirosis, (13) Hepatitis, (14) Influensa (15) Influenza A baru (H1N1) / Pandemi tahun 2009, (16) Meningitis, (17) Yellow Fever, dan (18) Chikungunya.

Salah satu upaya penanggulangan adalah berupa penyelidikan epidemiologi. Penyelidikan epidemiologi adalah penyelidikan yang dilakukan untuk mengenal sifat-sifat penyebab penyakit, sumber dan cara penularan serta faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya wabah. Contoh pada kasus penyakit Demam Berdarah Dengue, maka petugas akan mengunjungi rumah penderita untuk mencari tau asal dan sumber penularan sehingga dapat dilakukan tindakan yang perlu untuk pengendalian penyakit misalnya dengan tindakan pengasapan (fogging) sehingga mengurangi kemungkinan orang lain untuk tertular penyakit tersebut.

Kendala yang dihadapi dalam upaya penyelidikan epidemiologi adalah alamat penderita yang masuk rumah sakit dengan diagnosa penyakit yang berpotensi wabah seringkali tidak jelas, juga termasuk penderita yang berasal dari luar Kota Manado. Hal ini membuat petugas kesulitan untuk menemukan tempat tinggal penderita tersebut sehingga upaya penanggulangan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Diharapkan agar penderita dan keluarga penderita dapat memberikan alamat yang jelas, misalnya selain mencantumkan alamat Lingkungan dan Kelurahan juga marka atau penunjuk tempat seperti disamping bangunan/gedung A, sehingga upaya penanggulangan bisa lebih efektif dan efisien. Selain itu petugas kesehatan diharapkan dapat mendata alamat penderita dengan jelas.